Melakukankuat-kuat; memaksa; mengerasi; menggagahi; ~ harta orang mengambil harta orang (lain) dengan paksa; KEBENDAAN 1 segala sesuatu yang berkaitan dengan benda; 2 berkaitan dengan harta benda; yang bersifat mementingkan harta benda Maksudnyaadalah, lebih menghendaki harta rampasan perang. Ibnu Mas'ud berkata, "Saya tidak pernah melihat seorang pun dari sahabat Rasulullah saw yang menginginkan dunia hingga turunlah ayat kepada kami pada perang Uhud, "Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada orang yang menghendaki akhirat." Semuaorang yang punya tugas tertentu, kedukan tertentu atau terhormat dalam setiap lembaga atau institusi lazim disebut orang yang punya jabatan. Dalam Al-Qur'an banyak ayat yang menggambarkan tentang jabatan, baik yang menunjukkan kebaikan seperti ayat-ayat tentang Nabi Yusuf maupun yang menunjukkan keburukan seperti ayat-ayat tentang Fir'aun, Qarun dan sebagainya. 1 Orang yang mementingkan dirinya sendiri. "Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri." Lukas 12:21 (TB) Ketika kita bekerja dan berusaha ada upah atau keuntungan yang kita peroleh. 1segala sesuatu yang berkaitan dengan benda; 2 berkaitan dengan harta benda; yang bersifat mementingkan harta benda MENGHAMBUR-HAMBUR 1 meluapluap: (menghambur-hamburkan) mengeluarkan (uang, harta benda) secara berlebih- Iebihan: ia ~ (kan) harta peninggalan orang tuanya; Wahaiorang-orang yang beriman! Janganlah kamu jadikan bapak-bapakmu dan saudara-saudaramu sebagai pelindung, jika mereka lebih menyukai kekafiran daripada keimanan. Barangsiapa di antara kamu yang menjadikan mereka pelindung, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim. (QS. At-Taubah Ayat 23) Tamakadalah sikap yang tidak baik, orang yang tamak akan sesalu berusaha untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya, bahkan tidak jarang akan menggunakan berbagai cara meskipun yang tidak sesuai dengan aturan agama. Sebagaimana dapat dikatakan dengan menghalalkan segala cara yang penting banyak harta. Pengertian IWXflR. JANGANLAH HARTA DAN ANAKMU MELALAIKANMU DARI MENGINGAT ALLAH Allah Taala berfirman يَٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُلۡهِكُمۡ أَمۡوَٰلُكُمۡ وَلَآ أَوۡلَٰدُكُمۡ عَن ذِكۡرِ ٱللَّهِۚ وَمَن يَفۡعَلۡ ذَٰلِكَ فَأُوْلَٰئِكَ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta benda dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari mengingat Allah. Dan barangsiapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” QS. Al-Munafiqun 9Imam Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata Allah Ta’ala memerintahkan kepada hamba-Nya kaum mukminin untuk memperbanyak berdzikir mengingatNya, karena dalam berdzikir itu ada keberuntungan, kemenangan dan kebaikan yang banyak. Dan Dia melarang jangan sampai mereka disibukkan oleh harta-harta mereka dan anak-anak mereka dari mengingat-Nya, karena kecintaan kepada harta dan anak-anak itu adalah perkara sudah diqodratkan pada kebanyakan jiwa, maka ketika hal itu didahulukan daripada kecintaan kepada Allah, di dalamnya akan terjadi kerugian yang besar. Oleh karena itu Allah berfirman وَمَن يَفۡعَلۡ ذَٰلِكَ “Barangsiapa yang melakukan hal itu,” yakni harta dan anak-anaknya membuatnya lalai dari mengingat Allah,فَأُوْلَٰئِكَ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ“Maka merekalah adalah orang-orang yang merugi,” dari kebahagiaan yang abadi kenikmatan terus menerus, karena mereka lebih mendahulukan dunia yang fana daripada ada akhirat yang Taala berfirman إِنَّمَآ أَمۡوَٰلُكُمۡ وَأَوۡلَٰدُكُمۡ فِتۡنَةٞۚ وَٱللَّهُ عِندَهُۥٓ أَجۡرٌ عَظِيمٞ.“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan bagimu, dan di sisi Allah pahala yang besar.”QS. At-Taghabun 15Taisir Al-Kariimi Ar-Rahmaan 865يأمر تعالى عباده المؤمنين بالإكثار من ذكره، فإن في ذلك الربح والفلاح، والخيرات الكثيرة، وينهاهم أن تشغلهم أموالهم وأولادهم عن ذكره، فإن محبة المال والأولاد مجبولة عليها أكثر النفوس، فتقدمها على محبة الله، وفي ذلك الخسارة العظيمة، ولهذا قال تعالى ﴿وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ﴾ أي يلهه ماله وولده، عن ذكر الله ﴿فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ﴾ للسعادة الأبدية، والنعيم المقيم، لأنهم آثروا ما يفنى على ما يبقى، قال تعالى ﴿إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ﴾.تيسير كريم الرحمن ٨٦٥Baca juga Menghadirkan Senyum di Tengah Derasnya Ujian⏩ Grup Whatsap Ma’had Ar-Ridhwan Poso dari Fitnah Harta dan Anakيَٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُلۡهِكُمۡ أَمۡوَٰلُكُمۡ وَلَآ أَوۡلَٰدُكُمۡ عَن ذِكۡرِ ٱللَّهِۚ وَمَن يَفۡعَلۡ ذَٰلِكَ فَأُوْلَٰئِكَ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” Al-Munafiqun 9Penjelasan Mufradat Ayatذِكْرِ اللهِ“Mengingat Allah.”Ada beberapa pendapat yang menjelaskan makna dzikrullah dalam ayat ini. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah seluruh amalan wajib, sebagaimana yang diriwayatkan dari Al-Hasan, dan dikuatkan oleh Asy-Syaukani dalam Fathul Qadir. Adh-Dhahhak dan Atha` menerangkan “Yang dimaksud adalah shalat wajib.” Al-Kalbi berkata “Yang dimaksud adalah berjihad bersama Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.” Ada lagi yang berpendapat “Al-Qur`an.”Yang shahih bahwa dzikrullah dalam ayat ini bersifat umum, mencakup semua yang mereka sebutkan, sebagaimana dikatakan Al-Alusi dalam Makna AyatKetika menerangkan ayat ini, Al-Allamah As-Sa’di rahimahullahu mengatakan“Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya yang mukmin untuk memperbanyak berdzikir kepada-Nya, karena hal itu akan mendatangkan keberuntungan, kemenangan, dan kebaikan yang banyak. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga melarang mereka tersibukkan dengan harta dan anak-anak mereka dari berdzikir kepada-Nya. Karena mencintai harta dan anak-anak adalah sesuatu yang menjadi tabiat kebanyakan jiwa, sehingga akan menyebabkan lebih dia utamakan daripada kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ hal itu akan mendatangkan kerugian yang besar. Oleh karenanya, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman Barangsiapa yang melakukan itu’, yaitu harta dan anak melalaikannya dari berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka mereka itulah orang-orang yang merugi’ dari mendapatkan kebahagiaan yang abadi dan kenikmatan yang kekal, karena mereka lebih mengutamakan kehidupan yang fana daripada kehidupan yang kekal. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirmanإِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan bagimu di sisi Allah-lah pahala yang besar.” At-Taghabun 15 [Taisir Al-Karim Ar-Rahman]Al-Alusi berkata “Janganlah karena mementingkan pengurusan anak-anak dan harta dan memerhatikan kemaslahatannya serta bersenang-senang dengannya, menyebabkan kalian tersibukkan dari berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala berupa shalat dan ibadah-ibadah lainnya, yang akan mengingatkan kalian kepada sesembahan yang haq Subhanahu wa Ta’ala.” Tafsir Al-AlusiAsy-Syaukani rahimahullahu menyebutkan bahwa harta dan anak-anak yang melalaikan dari berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan salah satu akhlak kaum munafiqin. Fathul QadirAnak dan Harta Sebagai Perhiasan DuniaAyat Allah Subhanahu wa Ta’ala ini menjelaskan bahwa anak dan harta merupakan sebuah kesenangan dan perhiasan yang melengkapi kehidupan seseorang di dunia. Dengannya, dia merasakan kebahagiaan dan ketentraman dalam hidupnya. Di dalam ayat lain Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirmanزُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ. قُلْ أَؤُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرٍ مِنْ ذَلِكُمْ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَأَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَرِضْوَانٌ مِنَ اللهِ وَاللهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ“Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik surga. Katakanlah Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?’ Untuk orang-orang yang bertakwa kepada Allah, pada sisi Rabb mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan mereka dikaruniai istri-istri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” Ali Imran 14-15Namun demikian, kebahagiaan dengan mendapatkan karunia berupa harta dan anak tidaklah sempurna, jika tidak dibarengi iman dan amal shalih yang akan menunjang kehidupan dan kebahagiaan dunia serta akhiratnya. Oleh karenanya, bagi seorang mukmin, kehidupan akhirat jauh lebih penting dan lebih utama daripada kehidupan dunia. Sehingga kesenangan yang dia rasakan di dunia tidak akan menjadi penyebab kelalaiannya untuk mengejar kehidupan yang lebih kekal dan kebahagiaan yang bersifat abadi di akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirmanالْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shalih adalah lebih baik pahalanya di sisi Rabbmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” Al-Kahfi 46Asy-Syinqithi rahimahullahu menerangkan “Yang dimaksud ayat yang mulia ini adalah peringatan kepada manusia agar senantiasa beramal shalih, agar mereka tidak tersibukkan dengan perhiasan kehidupan dunia berupa harta dan anak-anak, dari sesuatu yang memberi manfaat kepada mereka di akhirat di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala berupa amalan-amalan yang shalih.” Adhwa`ul Bayan, 4/80, cetakan Darul Hadits, KairoSehingga pada hakikatnya, di balik kesenangan dan kebahagiaan mendapatkan harta dan anak, keduanya merupakan ujian yang apabila seorang hamba tidak memanfaatkannya dengan baik maka dapat menyebabkan kebinasaan dan kehancuran kehidupan dunia serta akhiratnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirmanإِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan bagimu, dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” At-Taghabun 15Juga firman-Nyaيَوْمَ لاَ يَنْفَعُ مَالٌ وَلاَ بَنُونَ. إِلاَّ مَنْ أَتَى اللهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ“Yaitu di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat.” Asy-Syu’ara` 88-89Demikian pula Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Beliau Shallallahu alaihi wa sallam senantiasa memperingatkan umatnya dari bahaya fitnah cobaan harta dan anak. Di antaranya adalah yang diriwayatkan At-Tirmidzi dari Ka’b bin Iyadh radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabdaإِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ“Sesungguhnya setiap umat mempunyai ujian, dan ujian bagi umatku adalah harta.” HR. At-Tirmidzi no. 2336, dishahihkan oleh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahihul Jami’ no. 2148Demikian pula tentang anak, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabdaإِنَّ الْوَلَدَ مَبْخَلَةٌ مَجْبَنَةٌ“Sesungguhnya anak itu penyebab kekikiran dan ketakutan.” HR. lbnu Majah no. 3666, Al-Hakim dalam Mustadrak, 3/179, Al-Baihaqi, 10/202, Ibnu Abi Syaibah 6/378, Ath-Thabarani, 3/32, dishahihkan Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Al-Jami’Al-Munawi berkata menjelaskan hadits ini “Yaitu membawa kedua orangtuanya untuk berbuat bakhil dan mendorongnya untuk bersifat demikian sehingga dia menjadi kikir harta karenanya, serta meninggalkan jihad karenanya.” Al-Mawardi berkata “Hadits ini mengabarkan bahwa hendaknya seseorang berhati-hati terhadap anak, yang dapat menyebabkan munculnya sifat-sifat ini. Juga akan memunculkan akhlak yang demikian. Ada sebagian kaum yang membenci untuk meminta dikaruniai anak karena khawatir keadaan yang tidak mampu dia tolak dari dirinya, sebab menetapnya hal ini pada diri manusia secara alami dan mesti terjadi.” Faidhul Qadir, 2/403Masing-masing Ada SaatnyaDalam Shahih Muslim no. 2750, dari sahabat Hanzhalah Al-Usayyidi radhiyallahu anhu ­–salah seorang juru tulis Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam– dia berkata Abu Bakr radhiyallahu anhu menemuiku lalu bertanya “Bagaimana keadaanmu, wahai Hanzhalah?”Beliau berkata Aku menjawab “Hanzhalah telah munafik!”Abu Bakr berkata “Subhanallah, apa yang engkau katakan?”Aku berkata “Tatkala kami berada di samping Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, beliau mengingatkan kami tentang neraka dan surga, sehingga seakan-akan kami melihatnya dengan mata kepala. Namun di saat kami keluar dari sisi Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, kami menyibukkan diri bersama istri, anak-anak dan kehidupan, sehingga kami banyak lupa.”Abu Bakr radhiyallahu anhu pun berkata “Demi Allah, sesungguhnya kami juga merasakan hal seperti ini!”Akupun berangkat bersama Abu Bakr radhiyallahu anhu hingga kami masuk ke tempat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Aku berkata “Hanzhalah telah munafik, wahai Rasulullah.”Maka Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bertanya “Ada apa?”Aku berkata “Wahai Rasulullah, kami berada di sisimu, engkau mengingatkan kami dengan neraka dan surga sehingga seakan-akan kami melihatnya dengan mata kepala. Namun jika kami keluar dari sisimu maka kamipun sibuk bersama istri, anak-anak, dan kehidupan sehingga kami banyak lupa.”Maka Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabdaوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنْ لَوْ تَدُومُونَ عَلَى مَا تَكُونُونَ عِنْدِي وَفِي الذِّكْرِ لَصَافَحَتْكُمُ الْمَلَائِكَةُ عَلَى فُرُشِكُمْ وَفِي طُرُقِكُمْ وَلَكِنْ يَا حَنْظَلَةُ سَاعَةً وَسَاعَةً -ثَلَاثَ مَرَّاتٍ“Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, sekiranya kalian terus-menerus memiliki keimanan seperti di saat kalian berada di sisiku dan selalu berdzikir, niscaya para malaikat akan menyalami kalian di atas tempat-tempat tidur dan di jalan-jalan yang kalian lalui. Namun wahai Hanzhalah, masing-masing ada saatnya.” Beliau mengucapkannya tiga kali.Ali Al-Qari berkata tatkala menjelaskan hadits ini “Kesimpulan maknanya adalah Wahai Hanzhalah, terus-menerus dalam keadaan yang disebutkan adalah satu kesulitan yang tidak seorang pun mampu melakukannya, sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah membebani demikian. Namun yang sanggup dilakukan oleh kebanyakan adalah seseorang mempunyai waktu berada dalam keadaan seperti ini. Tidak ada dosa baginya menyibukkan dirinya untuk bersenang-senang dengan apa yang disebutkan di waktu yang lain. Engkau dalam keadaan tetap berada di atas jalan yang lurus. Tidak terdapat kemunafikan pada dirimu sama sekali seperti yang engkau sangka. Maka berhentilah dari keyakinanmu itu, karena sesungguhnya itu termasuk celah bagi setan untuk masuk kepada para ahli ibadah, yang akan mengubah mereka dari apa yang telah mereka amalkan. Sehingga mereka akan terus berusaha mengubahnya hingga mereka meninggalkan amalan tersebut.” Mirqatul Mafatih, 5/150Hadits ini menunjukkan bahwa bukanlah satu hal yang tercela jika seseorang menyempatkan dirinya untuk bersenda gurau bersama istri dan anak-anaknya. Juga menyibukkan diri dengan usahanya dalam mencari nafkah. Asalkan perkara tersebut diberi porsi yang sesuai, tidak menyebabkannya lalai dari beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jangan pula sebaliknya, karena istri yang dapat menjadi penyebab fitnah, justru dijadikan alasan untuk tidak menikah. Atau anak dijadikan alasan penyebab fitnah, sehingga dia menelantarkan mereka dan tidak menyempatkan waktu bersamanya. Atau harta yang dapat menjadi penyebab fitnah sehingga meninggalkan mencari nafkah dan tidak menafkahi orang-orang yang wajib dia nafkahi. Namun semestinya semua itu ditempatkan sesuai kedudukannya, sehingga bernilai ibadah di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ sebuah hadits dari jalan Aun bin Abi Juhaifah, dari ayahnya, dia berkata Ketika Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mempersaudarakan antara Salman dan Abud Darda`, Salman datang mengunjungi kepada Abud Darda`. Beliau melihat Ummud Darda` dalam keadaan lusuh. Beliau bertanya kepadanya “Ada apa denganmu?” Ia menjawab “Saudaramu Abud Darda` tidak punya kebutuhan terhadap dunia.” Lalu datanglah Abud Darda` dan membuatkan makanan untuknya. Abud Darda` lalu berkata “Makanlah, karena sesungguhnya aku berpuasa.” Salman berkata “Saya tidak akan makan hingga engkau makan.” “Maka diapun makan bersama Salman. Tatkala di malam hari Abud Darda` bangkit untuk shalat, maka Salman berkata “Tidurlah.” Lalu dia bangkit, lagi maka Salman berkata “Tidurlah.” Sehingga tatkala di akhir malam Salman berkata “Bangunlah sekarang.” Lalu keduanya pun shalat. Lalu Salman berkata kepadanya “Sesungguhnya atas diri ada hak untuk Rabb-mu, ada hak untuk dirimu, dan ada pula hak untuk keluargamu. Berikanlah hak tersebut kepada setiap yang memiliki haknya.” Lalu Abud Darda` datang kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan mengabarkan hal tersebut kepada beliau, maka Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda “Telah benar Salman.” HR. Al-Bukhari, no. 1867Demikian pula yang diriwayatkan oleh Buraidah radhiyallahu anhu, ia berkata “Suatu ketika Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam berkhutbah di hadapan kami. Tiba-tiba datang Hasan dan Husain radhiyallahu anhuma yang keduanya sedang memakai gamis berwarna merah dan keduanya terjatuh. Maka Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam turun dari mimbarnya dan menggendong keduanya, lalu meletakkan keduanya di hadapannya. Lalu beliau berkata “Maha benar Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika berfirman Sesungguhnya harta-harta dan anak-anak kalian adalah fitnah ujian’. Aku melihat dua anak kecil ini berjalan dan terjatuh, maka aku tidak bersabar, sehingga aku memutus khutbahku dan menggendong keduanya.” Kemudian beliau melanjutkan khutbahnya. Diriwayatkan oleh Ashabus Sunan, Ahmad, Ibnu Hibban dan yang lainnya, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’Demikian pula yang diriwayatkan dari Al-Bara` bin Azib radhiyallahu anhu, dia berkata “Aku melihat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan Hasan bin Ali radhiyallahu anhuma berada di atas pundaknya, lalu beliau bersabda Ya Allah, sesungguhnya aku mencintainya maka cintailah dia’.” HR. Al-Bukhari no. 3749 dan Muslim no. 2422Maka, rasa cinta kepada seorang anak dan harta, seharusnya membawa dampak yang positif, yang semakin mendekatkan seorang hamba kepada Rabb-nya. Dengan cara menginfakkannya di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala jika itu berupa harta. Adapun anak adalah dengan mendidiknya dan membiasakannya untuk taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semenjak Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa membimbing kita dan keluarga kita agar senantiasa menjadi hamba yang ikhlas, bersabar dan istiqamah dalam melaksanakan perintah-perintah-Nya, dan menjauhkan kita dari fitnah serta penyebab jauhnya hamba dari beribadah يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَاماً“Dan orang-orang yang berkata Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa’.” Al-Furqan 74Wallahu a’ Home » Kongkow » Pendidikan Kewarganegaraan » Hedonisme, Pragmatisme dan Materialisme - Rabu, 10 Februari 2021 0800 WIB Disamping kemajuan yang disebabkan oleh adanya Globalisasi ada beberapa dampak buruk yang juga bisa berpengaruh terhadap pola hidup di masyarakat diantaranya Hedonisme, Pragmatisme dan Materialisme. Hedonisme, Pragmatisme dan Materialisme merupakan pola hidup yang cenderung mendominasi dalam kehidupan manusia modern saat ini. Berkembangnya pola hidup ini pada awalnya di anggap sebagai jawaban atas persoalan manusia untuk kehidupan yang layak. Namun belakangan sangat dirasa bahwa ketiga pola hidup ini bisa berpengaruh buruk terhadap tingkah laku individu. Lalu, apa sih maksud dari Hedonisme, Pragmatisme dan Materialisme tersebut? Hedonisme Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama hidup. Pengertian hedonisme hampir serupa dengan materialisme tetapi hedonisme lebih menuju kepada penghamburan materi, berpesta pora, menjalani hidup sebebas-bebasnya demi memenuhi hawa nafsu yang tanpa batas. Terdapat tiga aliran pemikiran dalam hedonis yakni Cyrenaics, Epikureanisme, dan Utilitarianisme. Dampak Hedonisme Perilaku dan gaya hidup hedonisme yang dianut, juga akan memberikan dampak pada dirinya dan juga lingkungan sekitar. Sayangnya, dampak yang muncul dari perilaku hedonisme ini cenderung negatif. - Seseorang yang memiliki perilaku dan gaya hidup hedonisme cenderung individualis, atau juga menganggap diri sendiri lebih penting dari orang lain. - Kebiasaan membeli barang-barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan adalah dampak buruk dari hedonisme. Hal tersebut dilakukan hanya untuk kesenangan semata, sebab suka berbelanja. - Seseorang yang memiliki gaya hidup atau perilaku hedonisme, biasanya lebih mementingkan diri sendiri tanpa mempedulikan orang lain. - Sebagian orang yang terjerumus hedonisme juga lebih cenderung menjadi seorang yang pemalas serta tidak menghargai waktu. Contoh seorang remaja mempunyai orang tua yang kaya dan selalu menghambur hamburkan uangnya demi mendapatkan kepuasan duniawi, dan senang-senang. Dari contoh ini kita bisa melihat bahwa remaja tersebut dengan instannya mendapatkan apa yang ia inginkan, akan tetapi ia tidak akan tahu kepuasan yang diperjuangkan dari nol, dari yang tidak mempunyai apa-apa menjadi ada dan besar. Pragmatisme Pragmatisme adalah sebuah konsep yang mementingkan sisi praktis dibandingkan sisi manfaat, dengan kata lain pragmatisme lebih mementingkan hasil akhir daripada nilai nilai moral yang dianut masyarakat atau bisa dibilang bahwa pragmatime menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Biasanya sifat ini identik dengan orang yang kurang penyabar dan ambisius. Orang yang ambisius ini selalu melakukan sesuatu atau melakukan perubahan secara cepat. Sehingga tidak heran kalau orang seperti ini mempunyai keinginan yang keras dan tidak mau dikalahkan oleh orang lain. Tapi, sifat ambisius ini cenderung bersifat ke hal yang negatif, mereka melakukan segala macam cara untuk mencapai keinginannya. Salah satu contoh kecil pragmatisme mahasiswa yang terjadi di universitas adalah ketidakjujuran akademik. Permasalahan ini merupakan permasalahan yang sangat klasik yang terjadi dalam dunia pendidikan. Misalnya dalam menempuh ujian, banyak sekali mahasiswa yang berlaku curang dalam dalam ujian seperti membuat contekan-contekan, mereka menulis ringkasan pelajaran dalam kertas-kertas kecil. Materialisme Materialisme adalah pandangan hidup yang semata mata hanya mencari, kesenangan, dan kekayaan/kebendaan merupakan satu-satunya tujuan atau nilai tertinggi. Materialisme juga mengesampingkan nilai nilai rohani, bahkan materialisme tidak mengakui adanya budaya immaterial atau adanya “Tuhan”. Filsuf yang pertama kali memperkenalkan paham ini adalah Epikuros. Sementara itu, orang-orang yang hidupnya berorientasi kepada materi disebut sebagai "materialis". Orang-orang ini adalah para pengusung paham ajaran materialisme atau juga orang yang mementingkan kebendaan semata harta,uang,dsb. Ciri-ciri paham materialisme Setidaknya ada 5 dasar ideologi yang dijadikan dasar keyakinan paham ini Segala yang ada wujud berasal dari satu sumber yaitu materi ma’dah. Tidak meyakini adanya alam ghaib. Menjadikan pancaindra sebagai satu-satunya alat mencapai ilmu. Memposisikan ilmu sebagai pengganti agama dalam peletakan hukum. Menjadikan kecondongan dan tabiat manusia sebagai akhlak. Contoh seseorang dengan pekerjaan, jabatan yang bagus ia percaya hanya dengan itulah yang bisa menghidupinya. Dalam contoh ini orang tersebut hanya semata mata mencari dan mementingkan materi tanpa mengingat Tuhan, dia lupa bahwa pekerjaan, jabatan, rezeki Tuhanlah yang mengatur. Sumber Cari Artikel Lainnya Bagi banyak orang, harta yang paling berharga dalam hidup adalah uang. Dengan uang kita akan dapat membeli apa pun sehingga tercapai kepuasan yang maksimal. Selain uang, jabatan juga sangat diimpikan dan kadang kita rela melakukan apa pun demi mendapatkan posisi yang lebih orang yang mengejar kepuasan adalah orang-orang yang egois, mereka lebih memilih untuk mementingkan diri sendiri dari pada orang lain. Mereka merasa mampu untuk menyelesaikan semuanya dengan uang yang mereka miliki. Namun, saat mereka ada masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan uang, maka sengsaralah jiwa mereka butuh perhatian kasih sayang, uang tidak dapat memberikan semua itu. Karena uang bukan jaminan kebahagiaan. Sebenarnya, uang boleh melimpah tetapi bagaimanapun keluarga tetap menjadi kerinduan disaat lagi ditimpa musibah. Dan sesungguhnya, harta yang paling berharga dalam hidup kita adalah keluarga. “Kenapa harus keluarga?” Jawabannya, karena keluarga lah tempat kita berlindung, dan kepada keluargalah tempat kita mencurahkan isi hati. Memang kini kita sudah tumbuh dewasa dan mungkin terlalu sibuk mengurusi hal yang lebih menyenangkan di luar rumah. Kita lupa, bahwa ada orang tua yang juga butuh canda tawa dari kita. Kita lupa, bahwa merekalah yang senantiasa menghibur saat kita menangis di masa kecil lupa, bahwa mereka telah bersusah payah mencari kehidupan yang lebih baik demi menyelamatkan masa depan anak-anaknya. Dan seharusnya, jika kita telah seharian berada di luar rumah dan kemudian pulang untuk mencari perisitirahatan, jangan lupa mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tua, yang membuat kita bisa hadir di dunia. Sebab, jika tanpa usaha mereka, kita tidak akan sampai sejauh ini bisa menjalani kehidupan. Maka selagi ada waktu, jangan hanya memberikan perhatian kepada orang lain, tapi lalai memberikan perhatian pada keluarga. Pastikan, setiap hari sebelum melakukan aktivitas, kedua orang tua kita dalam keadaan baik-baik saja. Dan buat kamu, yang masih memiliki keluarga yang lengkap sayangilah keluargamu sebelum mereka pergi meninggalkanmu dan cintailah keluargamu seperti kamu mencintai dirimu jagalah keutuhan keluargamu. Karena keutuhan keluarga akan semakin kokoh manakala berdiri diatas pilar-pilar cinta yang kuat, dimana ada rasa kasih sayang antara anggota selalu merasa bersyukur dan merasa bahagia hidup bersama keluarga kecilku, mereka adalah ibu, abang dan juga adikku. Meski tak sesempurna kehidupan keluarga orang lain yang telah memiliki segalanya, aku menganggap apa yang kumiliki lebih dari cukup. Walaupun kadang aku sedikit iri melihat temanku yang memiliki keluarga lengkap. Tapi, aku sadar diri. Kehidupan masing-masing orang itu berbeda dan sudah ditakdirkan oleh Tuhan. “Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”